BANGGAI SULTENG ,
GARDATIPIKORNEWS.COM
- Sejumlah warga desa Dolom Kecamatan Lobu Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah mengadukan so'al kelakuan Pemerintah desa Dolom kepada awak media ini melalui via televon genggam pada hari Rabu (15/12/2021). Aaduan warga ini terkait dengan dugaan penyalahgunaan dana desa (ADD/DD) yang di alokasikan untuk pemberdayaan masyarakat desa yaitu berupa; "Pengadaan bantuan ternak Sapi tahun 2021 yang sebenarnya 14 ekor namun yang di'adakan hanya 12 ekor. Alasan Kepala desa, Sapi yang 2 ekor tersebut untuk menutupi kekurangan ditahun yang lalu, alasan ini sungguh aneh bin ajaib tutur sejumlah warga, berarti pengadaan ditahun yang lalu juga ada ketimpangan ! ??? Kemudian masalah pengadaan sensor mini, itu yang diberikan bukan kepada masyarakat melainkan kepada Aparat desa melalui Istri-istrinya tutur warga, dan makanan tambahan ibu hamil sudah dianggarkan tetapi tidak juga diberikan kepada penerima manfaat terang warga, terlebih lagi makanan tambahan Stunting hanya diberikan susu kotak seharga Rp.5000 (Lima Ribu Rupiah. Dalam bencana Covid-19 pemerintah telah menganggarkan bantuan melalui anggaran dana desa (ADD/DD) untuk diberikan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 namun sangat disayangkan bantuan tersebut hanya berupa satu saset mama lemon yang seharga seribu rupiah dengan satu buah ember hitam kecil dan tiga botol alcohol kecil papar sejumlah warga. Bantuan pembangunan rumah kumuh ditahun 2020 cuma diberikan ramuan kayu kepada enam orang penerima manfaat, itupun ditolak oleh warga karna tidak dikasih sewa bikin tutur warga, itupun ada titipan bahasa dari aparat desa kalau ada orang bertanya tentang banyaknya jumlah sak semen bilang saja ada diberikan tiga puluh sak semen per-satu yunit rumah hal kenyataannya tidak cukup tiga puluh sak semen yang diberikan, terang sejumlah warga tersebut. Ironisnya lagi laporan masyarakat mengenai kinerja aparat pemerintah desa Dolom kecamatan Lobu sangat amburadul, pasalnya mereka (aparat) tidak proaktif dalam bertugas atau berkantor di desa, sementara mereka itu aparat desa hanya datang baparap mengisi absen kemudian langsung pulang dan terus pergi dikebun. Kasian kami masyarakat tutur warga, sementara mereka itu (aparat desa) yang digaji oleh Negara untuk proaktif di kantor sebagai pelayan masyarakat dan bukan digaji oleh Negara untuk pergi kerja kebun peribadi sendiri, ini artinya sama dengan makan gaji buta, dan pihak pemerintah Kecamatan Lobu turut membiarkan jelas warga. Oleh sebab itu kami atas nama warga masyarakat desa Dolom meminta kepada instansi terkait (pemerintah) agar mengusut tuntas permasalahan yang ada ditatanan pemerintah desa Dolom Kecamatan Lobu sehingga roda pemerintahan desa dapat berjalan dengan baik tutur sejumlah warga, sampai berita ini diterbitkan pihak pemerintah desa (Kepala Desa) Dolom terkesan tidak mau ditemui untuk dikonfirmasi. Kalau hal persoalan di desa "tunggu saja kaur saya yang menjelaskan, itu bukan urusan saya, ujar Kepala desa melalui via televon. *Kaperwil*