Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
GTN Ragam - GTN Daerah - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Kepolisian & TNI - GTN Pemerintahan - GTN Hukum & Kriminal - GTN Keagamaan - GTN Kesehatan - GTN Berita - Berita - GTN Olahraga - GTN Politik - GTN Kecelakaan - GTN Internasional - GTN Pariwisata - GTN Ekonomi - GTN Sosial - GTN Bencana Alam - GTN Entertainment - GTN Pendidikan - GTN Sepak Bola - GTN Video - GTN Otomotif - Jurnal Nasional - Artikel - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Hukum - GTN Berita
Weather Widget for Website by cuacalab.id

TGB Dan UAS Berbeda Jalan, Bertemu Tujuan

by Gardatipikornews
25 Mei 2025 - 227 Views

Lombok Barat-NTB || Gardatipikornews.com -- Minggu,25/5/2025, Di tanah yang bernama Tanak Beak, tempat tanah merah menjadi alas subur pohon-pohon buah dan mata air tak pernah kering, dua nama besar Islam Indonesia bertemu. Mereka datang bukan dengan janji kampanye atau risalah gerakan, tapi dengan pesan-pesan langit yang dibungkus kesederhanaan.

Hari itu, Sabtu 24 Mei 2025, TGB Muhammad Zainul Majdi dan Ustaz Abdul Somad (UAS) duduk dalam satu majelis. Mereka datang ke sebuah acara haul akbar dan tabligh umum di Pondok Pesantren Darul Hikmah NWDI, yang diasuh oleh TGH Khalilurrahman Djuaini, seorang ulama muda kharismatik, penerus garis perjuangan Nahdlatul Wathan Diniah Islamiyah sekaligus tuan rumah acara ini.

Namun di antara mereka, ada juga TGH Hasanain Djuaini, kakak dari TGH Khalil, seorang pemikir dan aktivis pendidikan Islam lingkungan, penerima Ramon Magsaysay Award 2011—disebut sebagai “Nobel versi Asia”—karena dedikasinya dalam membangun pesantren ramah lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan toleransi lintas iman.

Tanak Beak sore itu menjadi ruang bertemunya bukan hanya para ulama, tapi juga dua mazhab gaya dakwah—yang masing-masing lahir dari ruang ilmu yang sama: Universitas Al-Azhar, Kairo. Tapi seperti air dan angin, ilmu tak pernah keluar dari cetakan yang seragam.

TGB: Ulama, Intelektual, dan Negarawan

TGB dikenal luas sebagai ulama-umara. Tapi ia memulai segalanya dari kampung halaman—Pancor, Lombok Timur—menghafal Al-Qur’an di pesantren Nahdlatul Wathan, lalu menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor tafsir dari Universitas Al-Azhar, dengan predikat tertinggi: summa cum laude.

L

Dalam perjalanan politiknya, TGB pernah menjadi Gubernur NTB dua periode (2008–2018). Kini, ia menjadi Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, menjembatani ragam corak pemikiran Islam dari seluruh nusantara dan dunia Islam, dalam semangat wasathiyah—moderasi.

Gaya bicaranya tenang, struktural, nyaris seperti orasi akademik tapi dengan kelembutan guru mengaji. Dalam haul di Tanak Beak, TGB menyampaikan pentingnya rahmah—kasih sayang dalam dakwah, dan menekankan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan mozaik indah dari keberagaman umat.

UAS: Pendakwah semua kalangan yang Ilmiah

UAS adalah sosok yang mudah dikenali: cerdas, lucu, blak-blakan, tapi tajam. Ia adalah seorang Lc. dari Al-Azhar, alumni Darul Hadits Maroko, dan doktor ilmu hadis dari Sudan. Ia dikenal publik lewat ceramah-ceramah yang viral, yang menggabungkan dalil, sejarah, dan humor.

Ia datang ke Tanak Beak bukan untuk tampil gagah, melainkan sebagai tamu yang tahu cara menghormati tuan rumah. Sempat membuat jamaah tertawa dengan guyonannya yang khas, tapi di balik setiap gurauan, terselip pesan dakwah yang mengendap.

Ia menyebut pentingnya menjaga sanad ilmu dan adab, serta menyindir halus umat yang lebih senang berdebat soal perbedaan daripada bersatu dalam amal. Dan dengan cara yang khas, ia menyambungkan semua itu ke kehidupan nyata masyarakat.

Politik Memisahkan, Dakwah Menyatukan Yang membuat pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar acara keagamaan adalah sejarah antara keduanya. Pada tahun 2019, UAS pernah menyatakan dukungan agar TGB menjadi calon presiden. Saat itu, TGB memang santer disebut sebagai representasi ulama-intelektual yang nasionalis-religius. Tapi takdir tak berpihak. Keduanya lalu berbeda arah dalam sikap politik dan pilihan strategis.

Namun perbedaan itu tidak pernah menjadi jurang. Politik boleh menggariskan beda posisi, tapi dakwah menyatukan misi. Di Tanak Beak, tak ada tersisa bayang-bayang masa lalu. Yang terlihat hanyalah dua ulama besar yang saling menghormati, berdiri di hadapan umat sebagai guru, bukan rival.

Mereka tak saling memuji secara berlebihan. Tapi dalam bahasa tubuh, dalam gestur, dalam cara mendengarkan satu sama lain, terlihat bahwa tak perlu seragam untuk bersatu. Itulah seni dakwah. Dakwah bukan mencari pengikut, tapi menumbuhkan kesadaran.

Satu Akar, Banyak Cabang Tanak Beak sore itu memberi kita pelajaran yang barangkali lebih mendalam dari sekadar ceramah. Bahwa Islam Indonesia punya banyak wajah, tapi akar yang satu. Bahwa ulama bukan hanya mereka yang duduk di pesantren, tapi juga yang pernah memimpin rakyat. Bahwa seorang pendakwah tak harus berbicara lembut untuk menyentuh hati, dan seorang politisi tak harus kehilangan ruh ketika memasuki dunia kekuasaan.

Dan bahwa Al-Azhar, tempat keduanya belajar, telah menanam dalam mereka bukan hanya ilmu, tapi juga kelapangan dada untuk menerima perbedaan.

Sore makin tua. Daun-daun jatuh di tanah merah, dan angin dari Narmada berhembus lembut. Acara selesai, tapi jejaknya belum pudar. Di Tanak Beak, kita menyaksikan bukan hanya dua ulama berceramah. Kita melihat cermin masa depan Islam Indonesia: moderat, bersahaja, cerdas, dan terbuka.

Dari Kairo ke Lombok, dari tafsir ke hadis, dari panggung politik ke mimbar pesantren—mereka berjalan sendiri-sendiri, tapi ternyata sampai di tempat yang sama: hati umat.


Sumber : Muhammad Ihsanul Wathony

Pewarta : Akub.gtn.com

Sebelumnya
UAS Silaturahmi Bersama Gubernur NTB, Suasana Penuh Canda...
Selanjutnya
Launching Ketahanan Pangan Tahun 2025 Desa Pengasinan Kecamatan Gunungsindur Peternakan Ayam...

Berita Terkait :